THE GREAT DISRUPTION - GREAT MANAGER AND GREAT COMPANY

Zaman sudah berubah dan akan terus berubah, Belajar itu sejatinya menjelajahi tiga fase: learn, unlearn, relearn. Sebab dunia itu terus berubah. era disrupsi merupakan gangguan yang didominasi oleh perubahan akibat perkembangan teknologi terutama teknologi yang berbasis internet atau digital. Disruption mengubah banyak hal sedemikian rupa, sehingga cara-cara bisnis lama menjadi obsolete. Menjadi usang atau ketinggalan zaman. Sejatinya mengubah bukan hanya "cara" berbisnis, dan fundamental bisnisnya. Mulai dari struktur biaya sampai ke budaya, dan bahkan ideologi industri.
Grounded Car Terminal Indonesia
Basic concept mengenai disruption itu sendiri. Sebagian baru pada tahapan ngasal dan mungkin malas membaca, sehingga menggunakan cara berpikirnya yang kemarin untuk melihat apa yang terjadi hari ini. Padahal, disruption itu bukan sekedar fenomena hari ini (today), melainkan fenomena "hari esok" (the future) yang dibawa oleh para pembaharu ke saat ini, hari ini (the present.
Beberapa contoh yang bisa kita telisik tentang disruption, terjadi akibat perubahan cara-cara berbisnis yang dulunya sangat menekankan owning (kepemilikan) menjadi sharing (saling berbagi peran, kolaborasi resources). Jadi kalau dulu semua perlu dimiliki sendiri, dikuasai sendiri, sekarang tidak lagi. Sekarang kalau bisa justru saling berbagi peran. Atau, kalau dulu semuanya ingin dikerjakan sendiri, pada era disruption tidak lagi seperti itu. Sekarang eranya kita bekerja bersama-sama. Kolaborasi, bergotong royong.
Disruption hanya terjadi pada industri digital—sekali lagi saya tegaskan, jelas  kurang pas. Sebab disruption tidak seperti itu. Disruption terjadi di mana-mana, dalam bidang industri apa pun. Ia bahkan mengubah landasan hubungan dari kepemilikan perorangan menjadi kolektif kolaboratif.
Grounded Car Terminal Indonesia
Lima ciri disruption yang belakangan ini marak terjadi di mana-mana. Apakah itu hanya terbatas pada industri digital, Jelas tidak.
Pertama, disruption berakibat penghematan banyak biaya melalui proses bisnis yang menjadi lebih simpel.
Kedua, ia membuat kualitas apapun yang dihasilkannya lebih baik ketimbang yang sebelumnya. Kalau lebih buruk, jelas itu bukan disruption. Lagipula siapa yang mau memakai produk/jasa yang kualitasnya lebih buruk?
Ketiga, disruption berpotensi menciptakan pasar baru, atau membuat mereka yang selama ini ter-eksklusi menjadi ter-inklusi. Membuat pasar yang selama ini tertutup menjadi terbuka.
Keempat, produk/jasa hasil disruption ini harus lebih mudah diakses atau dijangkau oleh para penggunanya.
Kelima, disruption membuat segala sesuatu kini menjadi serba smart. Lebih pintar, lebih menghemat waktu dan lebih akurat.
Sebuah statistik menunjukan bahwa perusahaan-perusahaan yang memiliki pemimpin digital merasakan tingkat kepuasan kerja karyawan yang lebih tinggi sebesar 87 % dari jumlah karyawan.
Terdapat 76 % ekskutif yang termasuk dalam digital leader membawa perusahaannya memperoleh pendapat lebiih besar dibandingkan dengan eksekutif lainnya.
Terdapat 80% persen pemimpin digital membuat keputusan berdasarkan data, dan menariknya 63% di antaranya menyampaikan bahwa perusahaan mereka mampu membuat keputusan secara real time.
Building Innovation Model menyangkut business process dan alokasi resources . Berubah untuk menciptakan  efisiensi dan perubahan pola kerja. Sekarang ini kita menyaksikan banyak perusahaan sedang susah akibat gempuran perusahaan-perusahaan yang berbasis digital, bukan berarti perusahaan konvensional tak akan mengalaminya. Di sini yang saya maksud dengan perusahaan konvensional adalah perusahaan-perusahaan yang core business-nya tidak berbasis digital.



by. Enggal Ady Irmawan 
Grounded Car Terminal Indonesia 
14/04/2018



Related Posts:

0 Response to "THE GREAT DISRUPTION - GREAT MANAGER AND GREAT COMPANY "

Posting Komentar